Saturday, November 20, 2010

Diskusi ke 13. Bedah buku : DUA BUDAYA dan sebuah pandangan kedua. & Suan - pan ( Abacus ) warisan budaya , komputer tradisional Tionghoa yang tersisihkan.


Undangan  Forum Budaya,  diskusi  ke 13.

1./ Bedah buku : DUA BUDAYA dan sebuah pandangan kedua. 
                            Perluasan dari buku  Dua Budaya dan Revolusi Ilmiah
                            Karya C.P. Snow. Penerbit : Jalasutra.

      Pembahas : Dr.  Beny A.Wiryomartani,  Spbs
          
                          Dr. Yasraf Amir Piliang.

2./ Subject :  Suan - pan ( Abacus ) warisan budaya , komputer tradisional Tionghoa  yang tersisihkan.

      Nara Sumber :   Mamur  Suriaatmadja
    


Waktu : Jumat,  29 Oktober 2010.  Jam 15.30- 18.00.

Terbuka untuk umum.  

Tempat : Ruang  FSRD, UK Maranatha ,

Jl. Suria Sumantri 65 , Bandung.

Pengunjung masuk dari gerbang  no 1.     

Semua peminat ditunggu   kehadirannya.

Biaya gratis .

Salam erat,

CCDACS

Universitas Kristen Maranatha.
Bandung,  Indonesia.

Arsip  presentasi pertemuan yang lalu dapat dilihat pada blog:


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>oooooooooooooooooo<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

Invitation from  the Culture Forum, 13th  discussion.

1./  Book Discussion:  The Two  Culture.   Author :  C. P. Snow

      Speaker : Dr. Beny A.Wiryomartani, Spbs

                        Dr.  Yasraf  Amir  Piliang.    

2./ Subject :  Abacus ( Suan – pan )  a cultural heritage, discard Chinese traditional computer.


Speaker  :  Mamur  Suriaatmadja
    

Time :   Friday  29th October 2010,  At 3.30 - 6.00  PM.

Premise : Fine Art and Design  dept.  Maranatha Christian University,

Jl. Suryasumantri 65. Bandung. 

Entrance through the   gate # 1.

Free of charge.

All parties are welcome.

Regards,

CCDACS

Maranatha Christian University,
Bandung. Indonesia.

Archives of past presentations are  available on the blog :





 




S U A N  P A N
WARISAN  BUDAYA  DAN  INTELEKTUAL  YANG  TERABAIKAN

Oleh  Mamur  Suriaatmadja*


                                                  

*Pengamat  dan  pengagum  Suan  Pan.
Presentasi di Chinese Diaspora Art & Culture Study,  Fakultas Seni Rupa dan Desain,  Universitas  Kristen  Maranatha,  Bandung,  29 Oktober 2010

1. SUAN  PAN  (SIPOA)  DI  INDONESIA  TERPINGGIRKAN
1.1. Suan Pan (SP) adalah alat hitung tradisional Cina yand diciptakan ratusan tahun lalu. SP dibuat dengan bingkai kayu, poros bamboo, biji/manik kayu yang disusun dengan sistem 2-5. Dalam bahasa asing (Inggris, Jerman, Belanda, dsb.) disebut  Abacus.            
1.2. SP menyebar ke seluruh dunia oleh para perantau/imigran/pedagang/ pengusaha/pekerja dari Cina. Di Indonesia, SP masuk sekitar abad ke-14 dan disebut dalam berbagai dialek Cina seperti:  Sipoa, Sempoa,  Swipoa,  Sepoa.  dsb.                  
1.3. Sampai tahun 1950-an,  SP (Sipoa) merupakan alat berhitung sangat penting di perdagangan, perbankan, pegadaian,  perusahaan, pembukuan, dsb. serta diajarkan di sekolah-sekolah tertentu di Indonesia.       
1.4. Seiring dengan kemajuan teknologi seperti alat hitung mekanik, kalkulator  elektronik genggam, kalkulator elektronik dengan printer, scanner dengan printer, dsb. maka SP (Sipoa) semakin terpinggirkan. Hanya sebagian kecil pedagang senior yang sudah biasa menggunakan SP (Sipoa) masih menggunakannya.       
1.5. Generasi muda yang dilahirkan setelah ada kalkulator elektronik lebih senang menggunakan kalkulator modern. Sebagian besar generasi muda Indonesia termasuk keturunan Tionghoa (Chinese diaspora) tidak tahu apa itu SP atau Sipoa, Sempoa, Swipoa, dan Sepoa. Apalagi sejarah, kegunaan, dan jasa SP pada kemajuan soial-ekonomi Indonesia selama 2-3 abad lalu.     

2. TUJUAN PRESENTASI
2.1. Menggugah perhatian, kepedulian dan kebanggaan terhadap SP (Sipoa, Sempoa, Swipoa, Sepoa) yang kini  di Indonesia tersisihkan dan terabaikan.  
2.2. Melestarikan SP (Sipoa) sebagai warisan budaya dan intelektual yang sangat berharga dalam rangka pembangunan  Negara Kesatuan Republik  Indonesia. 
2.3. Membangkitkan kembali SP(Sipoa) sesuai potensinya.
2.4. Mendorong agar SP diakui sebagai warisan dunia. 

3.  SEJARAH  SINGKAT  SUAN PAN     
3.1. Berabad-abad lalu seorang cendekiawan/matematikawan Cina berhasil menciptakan alat hitung dari kayu dan bambu dengan sistem 2-5 biji/manik (gambar sampul) dan cara-caranya untuk penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pangkat, akar, dsb.   
3.2. Di kalangan orang asing alat hitung tradisional Cina itu disebut the Chinese Abacus untuk membedakan dari berbagai macam abakus yang sudah ada  sebelumnya maupun sesudahnya.   
 3.3. Siapa pencipta/penemunya?  Sayang sekali sampai sekarang tidak jelas.   
3.4. Kapan diciptakan/ditemukanya? Rupanya tidak ada yang tahu presis.                       Di majalah Newsweek, Sept.16-Sept. 23, 2002 dikatakan A.D. 190.  Kata “Suan Pan” tertcantum dalam buku tahun 190 di zaman dinasti Han Timur. Di lukisan terkenal  Along the River During Qing Ming Festival oleh Zhang Zeduan (1085-1145) dalam  dinasti Song (960-1279) tercantum dengan jelas  gambar Suan Pan dengan 15 poros (Wikipedia, the free encyclopedia). Dikatakan, SP yang seperti kita kenal sekarang ini muncul sekitar tahun 1200 di China dan disebut Suan Pan (http://ww.ee.ryerson.ca.8080/-elf/abacus/history.html). SP sudah digunakan secara umum dalam dinasti Ming (http://www.syuzam.net/english/history/html.   

4. SUAN  PAN  (SIPOA)   TERABAIKAN.     
4.1. Di Indonesia, sekitar awal tahun 1950-an, mesin hitung mekanik/tangan dengan printer  mulai menggeser Suan Pan (Sipoa).  
4.2. Kehadliran kalkulator elektronik genggam di tahun 1960 -1970 semakin menyudutkan Sipoa. Hanya orang tua yang sudah biasa bersipoa  masih menggunakannya. Pada umumnya kaum muda tidak menggunakan  lagi bahkan tidak tahu Sipoa (Suan Pan). Hanya sebagian kecil orang muda yang masih berminat.
4.3.Dengan kemajuan kalkulator elektronik genggam dengan printer, mesin hitung  elektronik  dengan printer di toko-toko, perbankan, pegadaian, akuntan, kantor-kantor, scanner dengan printer di swalayan/ hypermart yang bekerja lebih cepat, praktis, efisien, mudah, tidak melelahkan  maka  dapat dikatakan Suan Pan/ Sipoa  tidak digunakan lagi di Indonesia dan terabaikan.   
4.4. Menurut Bapak Jie Lesmana (Neneng), seorang ahli Suan Pan, Toko Obat PALEMBANG, di Bandung, penggunaan Suan Pan akan sangat merosot tetapi tidak akan habis sama sekali. Orang-orang fanatik akan tetap menggunakan SP.
    5.   SUAN  PAN  DAN  BOM  ATOM  PERTAMA  CINA  (1964)                                                               



5.1. Di bawah ini adalah cuplikan tentang peranan Suan Pan dalam bom atom pertama China 1964 oleh Fang Lizhi, profesor fisika, yang dikutip dari majalah Time, 1999.
      LOP  NOR      
      China  Joins  The  Nuclear  Club, 1964
      THE  BIG  BANG
      By   Fang Lizhi 
Thirty five years ago, at Lop Nor, Uighur, on October 16, 1964, at  3.00 p.m.,            China exploded its first atomic bom, unleashing the mushroom cloud, and  entered the nuclear age. China’s first atomic test triggered an explosion of national pride and hope. The path to that moment wasn’t easy. During the 1950s, Mao Zedong had decided to join the international atomic club, regardless the cost. During the first phase, 1956-1959, the Soviets provided supports to China but relations became strained in 1960 and China had to manage on its own.    
China’s nuclear program began to take shape in 1955, when some 100 physics students from five universities - I was among them - were brought to work at           a new and highly secret department at Peking University. We were informed only that we would be learning nuclear physics and preparing for a Chinese nuclear project.  At that time there were only no more than 30 qualified nuclear physicists in the country, far fewer than China needed to join the nuclear club.                                
A year later, at the age of 20, I became a junior researcher at the Institute of Modern Physics. I was part of a 12-member group studying the theory of nuclear reactors, which are necessary to produce Pu-239, a vital plutonium isotope that through fission can yield the greatest atomic energy. I was responsible for day-to-                  day operations, only one member of the goup was older than 25.
The biggest problem involved numerical computation. Since we lacked even motor-driven electric calculators, we relied on the ABACUS (SUAN PAN).             During peak periods of calculation, the room sounded like an old-fashioned bank, filled with wooden clacking sounds. Few could imagine that the noise was a prelude to the deafening first atomic explosion of China.
In addition to the thermal blast it created, the Lop Nor test generated a huge amount of national pride. To many of us it proved that China was capable of state-of–the–art achievements in science and military technology - a cherished dream for more than century.    
5.2. Dari cuplikan di atas dapat dilihat bahwa ketika Suan Pan (Sipoa) di Indonesia tersingkirkan oleh kemajuan teknologi ternyata Suan Pan memegang peranan yang sangat penting  dalam suksesnya bom atom pertama Cina yang mengangkat harkat dan martabat Cina di dunia.
5.3. Sebagai pengamat dan pengagum Suan Pan, saya/presenter, tergetar, terharu, dan bangga ketika membaca bahwa alat hitung tradisional Cina    berumur ratusan tahun memegang peran vital dalam bom atom pertama Cina. Negara timur pertama dan sampai sekarang satu-satunya yang berhasil mendobrak monopoli  Barat atas  bom atom.      

6.  SOROBAN  (ALAT  HITUNG  TRADISIONAL  JEPANG)
6.1. Sekitar pertengahan abad ke-15, alat hitung tradisional Cina sistem 2-5 dan teknik operasionalnya masuk ke Jepang dan disebut SOROBAN. Melalui penelitian dan studi yang keras para matematikawan Jepang berhasil membuat metoda operasional Soroban yang lebih canggih dan berbeda dengan metoda Cina.  Soroban sistem 2-5 manik diganti menjadi 1-4. Maniknya dibuat lebih tipis dan berujung lancip, poros manik-manik dari kawat sehingga manik-manik berjalan lebih halus dan lancar. Soroban 1-4 menjadi lebih ringkas, ringan, praktis, canggih, efisien, dan menarik (http://www.syuzan.net/english/history/history/html).                 
6.2. Menurut Prof.Dr. Jorn Lutjens, Soroban sistem 1-4 biji dibuat sekitar tahun 1920  (http://www.journluetjens.de/ sammlungen/abakus-en.htm).     
6.3. Sebagaimana halnya di Cina, seiring dengan masuknya alat hitung mekanik dan kalkulator elektronik maka Soroban 1-4 pun terdesak, ditinggalkan, dan menunggu “ajalnya”. 
6.4. Pada tahun 1954 seorang guru matematika Jepang, Toru Sakamoto,            menciptakan metode KUMON bagi anak-anak/remaja untuk mengerjakan perhitungan. Dengan metode Kumon dan rumus-rumusnya, otak kiri dan kanan anak–anak/remaja akan lebih terangsang dan berkembang, daya ingat lebih kuat, leih cerdas, mampu berhitung lebih cepat dan akurat. Pada tahap awal diajar dengan Soroban (1-4). Jika sudah mahir tidak perlu menggunakan Soroban.   Cukup dengan membayangkan jari-jarinya sedang berhitung di Soroban. Jadi, anak-anak diajari berhitung secara mental atau mental aritmatika. Metode Kumon menjadi populer di Jepang dan menyebar ke seluruh dunia (Look Japan, April 1999, Kompas, 16 Nov. 2008  dan Pikiran Rakyat, 12 Okt. 2009).    
6.5. Mental aritmatika dengan Soroban  juga diajarkan kepada anak-anak/remaja di Tonga, kepulauan Pasifik, oleh para anggota Japan Overseas Cooperation Volunteers (JOVC) yang bernaung di bawah the Japan International Cooperation Agency (JICA), Pacific Friend, Oktober 1995.
6.6. Pada tahun 1987 mental aritmatika dengan soroban diperkenalkan di  Thailand khususnya anak-anak sekolah bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan Thailand.  Sampai tahun 1999 mencapai sekitar 4000 siswa di 180 sekolah dan akan terus meningkat. Soroban sekaligus menjadi sarana  untuk mempererat persahabatan dan kerjasama rakyat Thailand dan Jepang                    (Look Japan,  April 1999).
6.7. Nasib Soroban yang menuju titik nadir terselamatkan, Soroban tetap dikenal, produksi dan lapangan kerja meningkat, juga citranya terangkat. Untuk memenuhi permintaan dunia maka Soroban juga dibuat di Cina dan sebagian diekspor ke Inonesia.   


7.  MENTAL  ARITMATIKA  DENGAN  SEMPOA  PADAHAL  SOROBAN
7.1. Sejak akhir tahun 1990-an sampai sekarang berbagai yayasan/lembaga pendidikan Indonesia menyelenggarakan pelatihan berhitung yang disebut mental aritmatika dengan SEMPOA. Sambutan masyarakat sungguh luar biasa mencapai ribuan peserta.   
7.2. Alat hitung yang digunakan dan disebut SEMPOA berbiji 1-4. Sebagaimana telah diterangkan di atas alat hitung tradisional sistem 1-4 biji adalah ciptaan Jepang dan disebut SOROBAN.  Adapun SEMPOA adalah salah satu dialek Cina untuk alat hitung tradisional Cina sistem 2-5 biji yang dalam bahasa Mandarin disebut Suan Pan.       
7.3. Untuk menghormati penemu/pencipta Sempoa (Suan Pan) dan Soroban sekaligus tidak menyesatkan instruktur/guru/anak-anak, alangkah baiknya bila kekeliruan/kerancuan dalam penamaan alat hitung itu diluruskan.      
7.4. Pada tahun 2004 saya membeli sebuah alat hitung tradisional.  Di dus tertulis:  CERDAS  high  quality,  SEMPOA  1:4/17 SABACUS,  dan  gambar  SOROBAN.          Isinya  sebuah  SOROBAN  sistem 1:4  dengan 17 poros.  Padahal,  Sempoa tidak sama dengan Soroban demikian pula sebaliknya. 

8.  FAKTOR - FAKTOR  SUAN  PAN  (SIPOA) DI  INDONESIA TESISIHKAN.
8.1. Tidak ada  penelitian dan pengembangan Sipoa, Sempoa, Swipoa, Sepoa, dsb.  untuk mengantisipasi kemajuan  teknologi  khususnya alat/mesin hitung mekanik maupun elektronik.
8.2. Setelah terpinggirkan/dilindas oleh kemajuan teknologi pun tidak berbuat apa-apa untuk mengurangi dampak negatipnya.      
8.3. Kurang menghargai Sipoa, Sempoa, Swipoa, Sepoa (Suan Pan) yang selama berabad-abad  telah sangat berjasa di bidang sosial-ekonomi terutama perdagangan .
8.4. Kurang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan Suan Pan.    

9.  MENGGALI  POTENSI  SUAN  PAN (SIPOA)
9.1. Suan Pan bisa digunakan untuk turut mencerdaskan anak-anak/remaja melalui pelatihan mental aritmatika seperti dengan Soroban (butir 6) dan “Sempoa” (butir 7).  
9.2. Suan Pan sebagai sarana kesehatan terutama bagi kelompok lansia. Berhitung          Suan Pan secara teratur akan memelihara kebugaran otak, melemaskan jari-jari,  memupuk syaraf motorik dan koordinasi antara mata, otak, dan jari-jari.
9.3. Suan Pan digunakan di sekolah untuk tunanetra di Amerika Serikat dan diajarkan oleh guru-guru yang juga tunanetra (New Conquests For The Ancient Abacus,  Reader’s Digest,  April 1987).
9.4.  Suan Pan sebagai  logo, ornamen, asesoris, di perbankan, money changers,  toko, rumah, dsb.  Souvenir, gantungan kunci,  gelang, bros, anting, kalung,  gesper ikat pinggang, dsb.  Motif tekstil, kertas hias, tas, amplop  Ang Pao, kartu Im Lek, dsb.    
9.5. Pada tahun 1992 saya diberi suvenir oleh  Ibu dan Bapak H. Ir. Sujatmiko, GEM – AFIA (Kerajinan Batumulia Indonesia), Bandung, berupa Suan Pan (Sipoa) minitur yang direkatkan pada batumulia.  Kreatif sekali dan indah. 
9.5. Potensi Suan Pan sebenarnya tak terhingga,  tergantung pada ide, kreatifitas, inovasi dan kecintaan pada Suan Pan/Sipoa.

10.  KESIMPULAN
10.1.  Suan Pan (Sipoa) sejak  beberpa abad lalu telah memegng peranan sangat penting dalam kehidupan sosial-ekonomi Nusantara/Indonesia sehingga menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia dalam lingkup Bhineka Tunggal Ika.
10.2.  Suan Pan (Sipoa) adalah warisan budaya dan intelektual yang sangat berharga dan perlu dilestarikan.
10.3.  Suan Pan dikembangkan sesuai potensinya untuk kesejahteraan kita semua.
10.4. Pelatihan mental aritmatika dengan Suan Pan (Sipoa) dapat turut mencerdaskan anak-anak dan meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia. Dengan demikian Suan Pan (Sipoa) akan tetap eksis di Indonesia.   
10.5. Kerajinan Suan Pan (Sipoa) akan dapat memperluas lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
 10.6. Suan Pan (Sipoa) layak menjadi warisan dunia.

11.  SARAN - SARAN
11.1.  Mengembangkan mental aritmatika dengan Suan Pan (SP).
11. 2. Mendorong diversifikasi penggunaan SP (Sipoa).   
11. 3. Membantu kerajinan SP.
11.3.  Menumbuhkan perhatian, kepedulian, dan kebanggaan terhadap SP.  
11. 4. Mempertahankan dan mengembangkan seni berhitung dengan SP.  
11.5.  Membentuk perhimpunan  untuk menpromosikan/mempopulerkan SP.    
11.6.  Menggalang dukungan untuk pelestarian warisan budaya SP.
11.7.  Chinese Diaspora  Art & Culture Study, Fakultas Seni Rupa dan Disain Universitas Kristen Maranatha menjadi pelopor.

                                                  ==================





























No comments:

Post a Comment